Kamis, 11 Maret 2010

Jurus Berkarier Cemerlang di Negeri Orang


Thursday, March 4th, 2010

oleh : Joko Sugiarsono
Menjadi profesional/eksekutif global memang keren dan memberikan banyak keuntungan. Namun, langkahnya pastilah tak semudah berkarier di negeri sendiri. Apa saja yang mesti diperhatikan agar karier di mancanegara bisa cling?
Berkarier di mancanegara, terutama di negara-negara maju dan makmur, bukan cuma mendatangkan pendapatan yang secara umum lebih besar daripada berkarier di dalam negeri, tetapi juga nilai plus tersendiri. Tak mengherankan, para eksekutif/profesional yang punya pengalaman sebagai eksekutif global biasanya punya nilai tawar tinggi –termasuk iming-iming jabatan mentereng — begitu pulang kampung, entah untuk berkarier di cabang perusahaan multinasional, di perusahaan lokal, maupun di lembaga pemerintah.
Sekadar menyebut contoh, ada Tanri Abeng, mantan CEO Union Carbide yang akhirnya sempat mencapai posisi Menneg Pemberdayaan BUMN. Atau, Sugiarto yang, setelah malang-melintang di sejumlah perusahaan di Eropa, ditarik Arifin Panigoro sebagai pentolan bidang keuangan Grup Medco, dan akhirnya sempat menjadi Menneg BUMN di era Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono jilid I. Yang lebih baru, setelah lepas dari posisi tinggi di JP Morgan dan mendirikan perusahaan sendiri bernama Ancora Capital, Gita Wiryawan pun didapuk SBY untuk mengisi posisi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal di kabinet jilid II-nya.
Tentu, masih ada contoh-contoh seperti itu di level high position. Di level menengah, penghargaan terhadap eks profesional global pun tak kalah serunya. Setelah sebelumnya menikmati karier mentereng di AMD dan Arinso, keduanya di Singapura, Hartono Sutirman mengaku merasa tersanjung dengan sambutan PT HM Sampoerna, yang memintanya menduduki posisi Manajer HR Project. “Ketika tiba di Indonesia, saya dijemput, dikasih mobil dan sopirnya. Saya jadi bingung karena tidak meminta,” kata lelaki kelahiran 1976 ini menceritakan awal kariernya di perusahaan rokok itu.
Singkatnya, menjadi eksekutif global itu “seksi”. Bukan hanya pengalaman lebih berwarna, kepercayaan diri jadi lebih tinggi, pergaulan dan jejaring lebih luas, serta penghasilan lebih wah, tetapi penghargaan sosial pun lebih tinggi, dibandingkan sejawat mereka yang hanya berkutat di dalam negeri.
Namun, tentu saja, untuk menjadi eksekutif global yang sukses dan punya prestasi cemerlang di mancanegara tidaklah gampang. Tak sedikit yang mencobanya. Dan, tak sedikit pula yang gagal. Masih beruntung mereka yang mampu survive, walaupun akhirnya cuma jadi profesional kebanyakan.
Lantas, bagaimana menitinya? Pengalaman — tentu dari mereka yang berkarier gemilang di mancanegara — masih menjadi guru terbaik. Cara yang umum adalah bergabung dengan perusahaan multinasional (multinational company/MNC) terkemuka yang beroperasi di berbagai negara, misalnya General Electric (GE), Citibank, ChevronTexaco dan Unilever. “Lebih bagus lagi kalau MNC tersebut punya program pertukaran karyawan, resmi ataupun tidak resmi,” kata Andreas Diantoro, Direktur Pengelola Dell South Asia.
Jalur lainnya adalah dengan menjadi profesional di negeri orang selepas menuntut ilmu di perguruan tinggi di luar negeri — entah untuk merengkuh gelar S-1, S-2 ataupun S-3. Langkah ini cukup banyak ditempuh kalangan profesional yang dihubungi SWA.
Ini, antara lain, dijalani Suhendra, peneliti senior di BAM, lembaga riset nasional milik Pemerintah Jerman. Juga oleh Oki Gunawan, yang menjadi anggota staf Pusat Riset IBM di New York selepas menyelesaikan S-3-nya di Princeton University. Ataupun Engkun W. Juganda, Direktur Senior Accenture Indonesia — kini telah kembali ke Indonesia — yang memulai kariernya di Accenture (dulu namanya masih Andersen Consulting) begitu menuntaskan studi masternya di bidang manajemen keuangan.
“Saya dulu sempat ditolak lembaga ini sampai lima kali. Lalu, saya perbaiki kemampuan saya, misalnya cara komunikasi bahasa Jerman saya, hingga akhirnya saya diterima,” ungkap Suhendra, spesialis di bidang material explosion. “Tapi, jangan remehkan peluang sekecil apa pun. Banyak kawan saya yang diterima di berbagai perusahaan Jerman, karena program internship, hingga akhirnya bisa diberi kepercayaan,” ujarnya lagi menyarankan. “Saya sendiri dikontak IBM melalui rekan senior saya sewaktu mengambil S-3 dan diminta mempresentasikan hasil riset S-3 saya,” kata Oki Gunawan, yang kini mendalami teknologi sel surya (photovoltaic science & technology).
Namun, ada juga yang melalui upaya membangun prestasi atau reputasi tinggi. Setelah itu, head-hunter ataupun perusahaan MNC terkemuka bisa kesengsem dan merekrutnya. Hal ini, misalnya, dialami Andreas Raharso, yang kini mengepalai (dengan jabatan Dean) R&D Centre for Strategy Execution – Hay Group yang berbasis di Singapura. Sebelum direkrut Hay Group dengan jabatan awal sebagai konsultan senior pada Desember 2006, Raharso telah malang-melintang di berbagai profesi dan jabatan di dalam negeri, baik di sektor swasta maupun akademis, dengan jabatan terakhir sebagai Dean Binus Business School.
Cara lain, seperti disarankan Diantoro adalah dengan membangun keahlian teknis yang tersertifikasi, yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan di berbagai negara. Ia mencontohkan beberapa kompetensi teknis tersertifikasi yang cukup populer, seperti : Certified Financial Analyst (CFA), Certified Public Accountant (CPA) dan Certified Professional Marketer (CPM).
Keahlian tersertifikasi ini juga banyak dibutuhkan di bidang TI seperti untuk penguasaan aplikasi Oracle, SAP, Peoplesoft, software Microsoft, atau Java, serta penguasaan perangkat seperti Cisco. Hal ini misalnya dialami Hartono Sutirman — kini Manajer Information Services Project Management PT HM Sampoerna/Philip Morris International (PMI). Dalam perjalanan kariernya di mancanegara, eksekutif muda ini mengaku pernah menangani implementasi SAP di beberapa perusahaan di Singapura setelah mengantongi sertifikat SAP R/3 for Human Resource dari SAP Academy of Singapore. Pengalaman ini juga berlanjut di Eropa ketika ia ditugasi PMI ke kawasan ini. Bahkan, sewaktu ia masih berkarier di Arinso Singapura (perusahaan konsultan manajemen dan TI), oleh teman-teman sejawatnya ia diberi julukan terhormat sebagai superkonsultan, karena dinilai punya technology knowledge paling lengkap, mulai dari SAP, Oracle, Peoplesoft, hingga bahasa pemrograman Java.
Cara yang dilakukan Hartono untuk menggapai karier di luar negeri cukup unik. “Awalnya bermodal nekat,” katanya. Akan tetapi, sebenarnya ada modal lainnya, yakni ia mengetahui bahwa Singapura di tahun 2000 itu butuh banyak tenaga TI, walaupun di Indonesia belum booming. “Saya tahu, di Singapura TI itu primadona,” katanya. Di era dunia yang makin terkoneksi, teknologi Internet yang sudah makin maju dan media sosial yang makin populer, informasi peluang kerja di luar negeri dengan mudah bisa diperoleh. “Anda mengetahui saya saja lewat Google, kan,” kata Raharso kepada SWA.
Bila karier sebagai profesional global sudah di tangan, biasanya ada kendala yang harus dihadapi dan direspons dengan baik. Menurut Diantoro, kendala paling utama bagi eksekutif asal Indonesia adalah keterampilan berbahasa. “Hal yang sangat positif bila para eksekutif asal Indonesia tidak cuma lancar berbahasa (asing), tapi juga mampu menguasai idiom ataupun slang lokal, yang sering dipakai penduduk setempat,” ujarnya mengungkap pengalamannya. “Ini bisa menjadi door opener untuk diterima masyarakat lokal,” tambahnya. Bahasa asing yang utama wajib dikuasai tentu saja bahasa Inggris. Dan yang punya slang lokal kuat untuk bahasa internasional ini adalah Australia, Inggris dan Amerika Serikat.
Kendala lainnya adalah soal budaya. Jangan heran, banyak eksekutif asal Indonesia yang begitu menjalani peran sebagai profesional global mengalami gegar budaya (cultural shock). Untuk mengatasi hal ini, Diantoro punya resep, selain menguasai slang lokal, juga memahami budaya lokal. Budaya lokal ini bisa dimasuki lewat cara mengenali budaya makanan (kuliner) setempat. “Masyarakat lokal biasanya cukup bangga dengan makanan lokalnya dan ini bisa sangat berguna sebagai ice breaker,” katanya.
“Menjadi profesional atau eksekutif global berarti siap menjadi ‘bunglon budaya’,” ujar Raharso. Maksudnya, mereka harus cepat beradaptasi dengan lingkungan di mana mereka bekerja dan tinggal. “Open mind dan open heart adalah kunci untuk memecahkan masalah budaya yang dihadapi,” katanya lagi.
—————————————————————————–
Karakter yang Dibutuhkan
•Berintegritas tinggi
•Berani mencoba, ulet dan persisten
•Adaptif
•Jujur, humble, dan patuh pada etika
•Hard & smart worker
•Punya “can do” attitude
•Luwes berinteraksi
———————————————————————————
Tentu, menjadi profesional global bukanlah tujuan akhir. Mereka pun sebaiknya bisa kompetitif dan berprestasi, baik untuk pencapaian pribadi maupun untuk mengharumkan nama bangsa. Salah satu langkah yang bisa ditempuh agar jalan menjadi profesional global yang mumpuni lebih mulus adalah dengan mengikuti pendidikan di perguruan tinggi maupun berkarier di lembaga yang menjadi center of excellence (COE). Misalnya, orang yang mau jago keuangan bisa belajar di Stern School, New York; yang ingin piawai di desain bersekolah di New York School of Design; yang mau mahir di bidang keilmuan musik bisa bersekolah di Berkelee Music School. “Sekolah-sekolah seperti ini memang menyediakan tenaga-tenaga pengajar dan fasilitas terbaik; juga ‘menyediakan’ murid-murid terbaik sebagai teman bersaing,” kata Engkun Juganda. “Lingkungan di mana kita berada memang penting untuk membentuk kebiasaan dan kualitas kerja kita berada pada level tertinggi,” tambah Suhendra.
Begitu juga, orang yang ingin mahir sebagai ahli otomotif dan robotik bisa bekerja di industri Jepang. Mereka yang ingin menjadi profesional fashion mungkin bagus bila bisa berkiprah di Milan atau Paris. Dan yang ingin jago masalah finansial bisa berkarier di industri keuangan Wall Street.
Oki Gunawan, contohnya, mengaku bangga bisa diterima di IBM T.J. Watson Research Center di New York. “Bergabung dengan IBM Research ini cukup sulit,” ungkapnya. Ia mengklaim, di AS lembaga riset terkemuka di bidang sains dan teknologi hanya dua, yakni Bell Laboratory di New Jersey dan IBM Research Center di New York ini. Salah satu contoh sulitnya, kualifikasi minimum untuk diterima jadi anggota staf di pusat riset ini adalah lulusan S-3 dari universitas terkemuka. “Lembaga seperti ini punya staf internasional yang terseleksi dan terbaik di bidangnya,” kata Oki. “Jadi, banyak yang bisa dipelajari dari kolega-kolega kita dan interaksinya sering membawa ide-ide baru,” tambah mantan anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia ini.
“Ya, pengalaman bekerja di COE akan sangat membantu dalam karier seseorang di industri tersebut. Sebab, keahlian yang didapat di sana diakui sebagai best practices dan di sana pun berkumpul para pakar di bidang tersebut,” kata Engkun yang mengaku senang bisa bekerja di Accenture, salah satu COE dunia di bidang konsultansi manajemen.
Namun, bukan berarti mereka yang tidak bersekolah maupun mengecap karier di perusahaan/lembaga COE tak bisa tampil cemerlang. Syaratnya,”Orang tersebut harus bisa belajar mandiri dengan baik dan membuka wawasan seluas-luasnya untuk mengatasi kekurangan lingkungannya,” ujar Suhendra memberikan saran.
Menjadi profesional kebanyakan di mancanegara saja tidak gampang, apalagi bila seseorang ingin menjadi global top executive. “Jangan cuma ingin karena melihat sisi enaknya,” Engkun mengingatkan. Memang, ada konsekuensinya, antara lain mesti menyiapkan kapasitas diri dengan sejumlah keterampilan (skill) baik teknis, manajerial, kepemimpinan maupun komunikasi. Juga, siap memenuhi kaidah-kaidah yang di perusahaan-perusahaan mapan sudah diterjemahkan dalam wujud Key Performance Indicators (KPI). Dan, mampu menghadapi konsekuensi berupa tekanan dan tingkat stres. “Makin tinggi kedudukan tentu makin tinggi tanggung jawabnya,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa untuk bisa menjadi eksekutif top seperti ini, selain butuh kemauan dan kemampuan, juga perlu adanya keberuntungan berupa kesempatan. “Karena posisi top executive di setiap perusahaan hanya ada beberapa,” ujarnya lagi.
Keterampilan yang Mesti Dimiliki
* Umum
•Bahasa, khususnya Inggris
•Akademis dasar
•Teknis dan operasional
•Komunikasi
•Manajemen waktu


* Keterampilan Tambahan untuk Jadi Eksekutif Top
•Manajerial
•Kepemimpinan
•Berpikir strategis
•Entrepreneurship
Diantoro punya beberapa kiat agar karier profesional di mancanegara bisa berkembang. Pertama, harus mencari mentor yang tepat. Dan, mentor ini tidak harus atasan sendiri, tetapi orang yang lebih piawai di bidangnya. “Juga, jangan malu mencontek hal-hal yang baik.”
Memang, bisa kompetitif di antara orang-orang terbaik dari berbagai belahan dunia tidaklah mudah. Namun, orang-orang seperti Diantoro dan Raharso mampu menunjukkan buktinya. “Caranya, dengan work hard dan work smart,” kata Diantoro. Ia menyebutkan, para profesional asal Indonesia sebenarnya sudah punya keuntungan, yakni terbiasa persisten dan adaptif. “Ini sudah terbentuk dengan adanya berbagai krisis di Indonesia.”
Adapun Raharso menyarankan kiat untuk terus adaptif dan belajar. “Adaptasi dan kemauan untuk terus belajar adalah kunci memenangi persaingan ketat di level global,” ujar orang Asia pertama yang memimpin Hay Group Global Research Center for Strategy Execution dan membawahkan beberapa direktur riset Hay Group di beberapa negara itu. Asal tahu saja, lembaga yang dipimpin Raharso ini bukan cuma membantu klien-klien perusahaan multinasional, tetapi juga memberikan advis buat para menteri dan anggota staf Gedung Putih pemerintahan AS di bawah Barack Obama. “Saya sendiri akan terus berusaha membuat penemuan yang bernilai di level global,” kata Raharso bertekad.” “Kuncinya, saya akan memacu organisasi yang saya pimpin ini untuk menjadi learning organization yang fokus pada inovasi,” katanya lagi.
Riset: Dumaria Manurung
Yang Mesti Dilakukan:
•Bersikap sociable dan visible
•Berpikir positif
•Mau meningkatkan keterampilan berbahasa internasional
•Mau beradaptasi dan terus belajar
•Mencari mentor yang tepat
•Fokus mengejar cita-cita/tujuan
•Mengembangkan wawasan dan pergaulan (open mind and open heart)
•Punya keunggulan unik
•Mengambil sekolah terbaik
•Raih sertifikasi teknis dan manajerial
•Memberikan yang terbaik
•Melihat karier sebagai a long journey

Yang Tidak Boleh Dilakukan:

•Berpikir negatif

•Melakukan hal-hal tak etis

•Enggan berubah atau belajar
•Mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain
•Terlibat dalam politik kantor
•Berpikiran sempit
•Tak berbaur dengan rekan dari negara lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar